085736822227
kursuskorea40@gmail.com

BELAJAR SABAR DARI CERITA KELEDAI


Sharing is caring!

Suatu sore, saya berjalan di tengah kebun bunga matahari ( haebaragi bat ). Saat itu musim panas hampir akhir. Di tengah kebun ada beberapa ekor kuda, namun ada seekor yang menarik perhatianku karena ukurannya kecil atSuatu sore, saya berjalan di tengah keSuatu sore, saya berjalan di tengah kebun bunga matahari ( haebaragi bat ). Saat itu musim panas hampir akhir. Di tengah kebun ada beberapa ekor kuda, namun ada seekor yang menarik perhatianku karena ukurannya kecil atau pendek, namun fisik penampilannya tetap kuda, bukan keledai.

Walaupun bagaimanapun aku menjadi teringat akan cerita seekor keledai dengan 2 ( dua ) orang tuannya, seorang ayah dan anaknya. Ringkas ceritanya begini :

Seeorang ayah m engambil seekor keledai lalu menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, lewatlah sebagian wanita. Gampangnya kelompok wanita dari Korea. Maka mereka bilang “ Aigo… eomeo ..eomeo… ada apa dengan orang ini.! Tidakkah kau merasa kasihan ? Kok, kamu yang naik sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan di belakang.?”

Karena merasa malu di olok-olok, maka iapun turun dari keledainya dan menyuruh sang anak yang naik. Tapi tak berapa lama berjalan, lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk, tentu orang Indonesia, karena lagi tidak ada pekerjaan , maka diantara mereka berkata, “ Wahai orang tua, kamu berjalan kaki padahal sudah tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan. Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa malu dan beretika.?”

Maka sang ayang Tanya pada anaknya “Apakah kamu sudah mendengar apa omongan mereka barusan? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng.” Kata sang ayah kepada anaknya. Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan bertemulah mereka dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai kelompok pencinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak,

“Kasihanilah binatang yang kurus-kering ini. Apakah kalian berdua menungganginya bersama-sama padahal timbangan masing-masing kalian lebih berat daripada keledai ini.?”

“Kamu dengar tadi,?” kata sang ayah kepada anaknya sambil ia turun dan menurunkan anaknya

“Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita sehingga kita bisa terhindar dari ucapan miring orang laki-laki, wanita dan para pencinta binatang tersebut,” katanya lagi

Mereka berdua kemudian terus berlalu sementara keledai berjalan di depan mereka. Kebetulan mereka berpapasan lagi dengan segerombolan pemuda-pemuda. Melihat pemandangan tersebut, mereka menggunakan kesempatan untuk mengejek seraya berkata,

“ Keledai ini sangat kelelahan . sepantasnya keledai ini kalian gendong sehingga tidak akan terjadi apa-apa nanti di jalan.” Kedua akhirnya juga menuruti usul mereka dan memikul satu sisi dan anaknya satu sisi yang lain.

Baru beberapa langkah mereka berlalu, rupanya ada beberapa orang di belakang mereka yang menertawakan pemandangan yang aneh tersebut, sehingga mereka berdua distop oleh polisi dan digiring ke rumah sakit jiwa..

Cerita ini sebuah gambaran, bahwa bagaimanapun sikap kita akan dikomentari oleh orang lain, adakalanya komentar itu baik adakalanya tidak baik. 인생은 페이스북 같은 것 ( inseungeun peisbuk kateun geot )” hidup ini seperti facebook “ , ada sikap ada komentar, ada yang mendukung ada yang melemahkan, maka adakalanya kita mengikutinya dan adakalanya kita tidak mengikutinya.

bun bunga matahari ( haebaragi bat ). Saat itu musim panas hampir akhir. Di tengah kebun ada beberapa ekor kuda, namun ada seekor yang menarik perhatianku karena ukurannya kecil atau pendek, namun fisik penampilannya tetap kuda, bukan keledai.

Walaupun bagaimanapun aku menjadi teringat akan cerita seekor keledai dengan 2 ( dua ) orang tuannya, seorang ayah dan anaknya. Ringkas ceritanya begini :

Seeorang ayah m engambil seekor keledai lalu menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, lewatlah sebagian wanita. Gampangnya kelompok wanita dari Korea. Maka mereka bilang “ Aigo… eomeo ..eomeo… ada apa dengan orang ini.! Tidakkah kau merasa kasihan ? Kok, kamu yang naik sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan di belakang.?”

Karena merasa malu di olok-olok, maka iapun turun dari keledainya dan menyuruh sang anak yang naik. Tapi tak berapa lama berjalan, lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk, tentu orang Indonesia, karena lagi tidak ada pekerjaan , maka diantara mereka berkata, “ Wahai orang tua, kamu berjalan kaki padahal sudah tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan. Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa malu dan beretika.?”

Maka sang ayang Tanya pada anaknya “Apakah kamu sudah mendengar apa omongan mereka barusan? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng.” Kata sang ayah kepada anaknya. Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan bertemulah mereka dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai kelompok pencinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak,

“Kasihanilah binatang yang kurus-kering ini. Apakah kalian berdua menungganginya bersama-sama padahal timbangan masing-masing kalian lebih berat daripada keledai ini.?”

“Kamu dengar tadi,?” kata sang ayah kepada anaknya sambil ia turun dan menurunkan anaknya.

“Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita sehingga kita bisa terhindar dari ucapan miring orang laki-laki, wanita dan para pencinta binatang tersebut,” katanya lagi

Mereka berdua kemudian terus berlalu sementara keledai berjalan di depan mereka. Kebetulan mereka berpapasan lagi dengan segerombolan pemuda-pemuda. Melihat pemandangan tersebut, mereka menggunakan kesempatan untuk mengejek seraya berkata,

“ Keledai ini sangat kelelahan . sepantasnya keledai ini kalian gendong sehingga tidak akan terjadi apa-apa nanti di jalan.” Kedua akhirnya juga menuruti usul mereka dan memikul satu sisi dan anaknya satu sisi yang lain.

Baru beberapa langkah mereka berlalu, rupanya ada beberapa orang di belakang mereka yang menertawakan pemandangan yang aneh tersebut, sehingga mereka berdua distop oleh polisi dan digiring ke rumah sakit jiwa..

Cerita ini sebuah gambaran, bahwa bagaimanapun sikap kita akan dikomentari oleh orang lain, adakalanya komentar itu baik adakalanya tidak baik. 인생은 페이스북 같은 것 ( inseungeun peisbuk kateun geot )” hidup ini seperti facebook “ , ada sikap ada komentar, ada yang mendukung ada yang melemahkan, maka adakalanya kita mengikutinya dan adakalanya kita tidak mengikutinya.

Walaupun bagaimanapun aku menjadi teringat akan cerita seekor keledai dengan 2 ( dua ) orang tuannya, seorang ayah dan anaknya. Ringkas ceritanya begini :

Seeorang ayah m engambil seekor keledai lalu menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, lewatlah sebagian wanita. Gampangnya kelompok wanita dari Korea. Maka mereka bilang “ Aigo… eomeo ..eomeo… ada apa dengan orang ini.! Tidakkah kau merasa kasihan ? Kok, kamu yang naik sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan di belakang.?”

Karena merasa malu di olok-olok, maka iapun turun dari keledainya dan menyuruh sang anak yang naik. Tapi tak berapa lama berjalan, lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk, tentu orang Indonesia, karena lagi tidak ada pekerjaan , maka diantara mereka berkata, “ Wahai orang tua, kamu berjalan kaki padahal sudah tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan. Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa malu dan beretika.?”

Maka sang ayang Tanya pada anaknya “Apakah kamu sudah mendengar apa omongan mereka barusan? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng.” Kata sang ayah kepada anaknya. Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan bertemulah mereka dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai kelompok pencinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak,

“Kasihanilah binatang yang kurus-kering ini. Apakah kalian berdua menungganginya bersama-sama padahal timbangan masing-masing kalian lebih berat daripada keledai ini.?”

“Kamu dengar tadi,?” kata sang ayah kepada anaknya sambil ia turun dan menurunkan anaknya

“Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita sehingga kita bisa terhindar dari ucapan miring orang laki-laki, wanita dan para pencinta binatang tersebut,” katanya lagi

Mereka berdua kemudian terus berlalu sementara keledai berjalan di depan mereka. Kebetulan mereka berpapasan lagi dengan segerombolan pemuda-pemuda. Melihat pemandangan tersebut, mereka menggunakan kesempatan untuk mengejek seraya berkata,

“ Keledai ini sangat kelelahan . sepantasnya keledai ini kalian gendong sehingga tidak akan terjadi apa-apa nanti di jalan.” Kedua akhirnya juga menuruti usul mereka dan memikul satu sisi dan anaknya satu sisi yang lain.

Baru beberapa langkah mereka berlalu, rupanya ada beberapa orang di belakang mereka yang menertawakan pemandangan yang aneh tersebut, sehingga mereka berdua distop oleh polisi dan digiring ke rumah sakit jiwa..

Cerita ini sebuah gambaran, bahwa bagaimanapun sikap kita akan dikomentari oleh orang lain, adakalanya komentar itu baik adakalanya tidak baik. 인생은 페이스북 같은 것 ( inseungeun peisbuk kateun geot )” hidup ini seperti facebook “ , ada sikap ada komentar, ada yang mendukung ada yang melemahkan, maka adakalanya kita mengikutinya dan adakalanya kita tidak mengikutinya.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares